Ninthplate Kabari saya
Rawon tampak atas: kuah hitam keluak, potongan sandung lamur, tauge, telur asin, sambal, dan jeruk nipis di piring sup putih gading

Sembilan piring.
Jakarta, Oktober 2026.

Bulan ini kami makan di 41 tempat. Yang di bawah ini lolos dua kunjungan dan disepakati tiga orang.

  1. 1RawonTebetnilai 9,2
  2. 2Soto BetawiKebayoran Lamanilai 9,0
  3. 3Gado-gadoCikininilai 8,9
  4. 4Nasi udukPalmerahnilai 8,8
  5. 5Sate kambingJatinegaranilai 8,8
  6. 6Gulai tunjangSenennilai 8,7
  7. 7Bubur ayamGlodoknilai 8,6
  8. 8Asinan BetawiRawamangunnilai 8,5
  9. 9Es podengPasar Barunilai 8,4
Lihat mejanya

Meja Sembilan

Semua sudah di meja. Tunjuk satu piring untuk membaca ulasannya.

Lagi ingin apa?

Belum ada yang ditunjuk

Nomor di tiap piring adalah peringkatnya. Piring yang tidak cocok dengan saringan meredup, tetapi tetap di meja dan tetap bisa dibuka.

41
tempat kami datangi bulan ini
10
dapat kunjungan kedua
9
bertahan sampai meja ini

Piring 1: Rawon

Warung Rawon Bu Warsini, Tebet

9,2dari 10. Pendapat redaksi.

Rasa
Keluaknya pahit di depan lalu gurih di belakang, dan tidak ada gula yang dipakai untuk menutupinya.
Masak
Sandung lamur dipotong besar. Seratnya lepas saat ditekan sendok dan belum hancur.
Hantar
Kuah datang hangat. Tauge mentah dan sambal dipisah supaya kamu yang memutuskan.
Ingat
Tiga hari kemudian kami masih membicarakan pahitnya.

Rawon ini tidak berusaha disukai, dan karena itu kami kembali.

Ditulis Sekar Pramudita.

Piring 2: Soto Betawi

Soto Betawi Bang Ruslan, Kebayoran Lama

9,0dari 10. Pendapat redaksi.

Rasa
Santan dan susu seimbang. Kuahnya berat dan berhenti tepat sebelum enek.
Masak
Babat empuk tanpa bau. Kentang goreng masuk paling akhir, jadi tepinya masih ada.
Hantar
Emping ditaruh di atas kuah dan sampai ke meja masih renyah.
Ingat
Kunjungan kedua sama persis dengan yang pertama. Itu jarang.

Bang Ruslan memasak soto yang sama pada dua hari berbeda, dan itu lebih sulit daripada hebat satu kali.

Ditulis Sekar Pramudita.

Piring 3: Gado-gado

Gado-gado Mpok Yati, Cikini

8,9dari 10. Pendapat redaksi.

Rasa
Bumbu kacang diulek kasar. Asam jawanya terasa dan manisnya tahu batas.
Masak
Kangkung dan kacang panjang direbus sebentar, masih melawan saat digigit.
Hantar
Diulek per piring di depanmu. Tunggu tujuh menit dan jangan mengeluh.
Ingat
Yang tertinggal malah lontongnya: padat, wangi daun.

Kami datang untuk bumbu kacangnya dan pulang membicarakan sayurnya.

Ditulis Mei Lanawati.

Piring 4: Nasi uduk

Nasi Uduk Ibu Marni, Palmerah

8,8dari 10. Pendapat redaksi.

Rasa
Santan dan serai terasa di nasinya, tidak cuma di wanginya.
Masak
Nasi pulen dan berbutir. Ayam bakar kecapnya hangus di tepi, basah di tengah.
Hantar
Piring rotan beralas daun, semua lauk datang sekaligus, sambal kacang di sisi.
Ingat
Bihun gorengnya biasa saja. Kami tetap menghabiskannya.

Kalau nasinya sebenar ini, kamu tidak akan minta lauk tambahan.

Ditulis Tigor Hasibuan.

Piring 5: Sate kambing

Sate Kambing Pak Darto, Jatinegara

8,8dari 10. Pendapat redaksi.

Rasa
Kambing muda, lemaknya manis. Kecapnya tidak dipakai untuk menutupi apa pun.
Masak
Dibakar di atas arang batok: hangus tipis di sudut, merah muda di tengah.
Hantar
Sepuluh tusuk di piring kaleng, dengan bawang merah mentah dan rawit iris.
Ingat
Satu potong lemak di tiap tusuk. Kami menghitungnya di dua kunjungan.

Pak Darto menunggu arangnya satu jam, dan sepuluh tusuk ini hasilnya.

Ditulis Tigor Hasibuan.

Piring 6: Gulai tunjang

Rumah Makan Lubuk Sari, Senen

8,7dari 10. Pendapat redaksi.

Rasa
Gulainya pekat. Kunyit dan cabai seimbang, minyaknya merah dan tidak pahit.
Masak
Tunjang lengket di bibir dan lepas dari tulang tanpa perlu ditarik.
Hantar
Piring kecil ditumpuk di meja begitu kamu duduk. Kuahnya sudah mengental di tepi.
Ingat
Jari yang lengket sampai sore.

Tigor berhenti mencatat di suapan kedua, dan kami menghitung itu sebagai nilai.

Ditulis Tigor Hasibuan.

Piring 7: Bubur ayam

Bubur Ayam Cik Lanny, Glodok

8,6dari 10. Pendapat redaksi.

Rasa
Buburnya gurih sebelum diberi apa pun. Kuah kuningnya tipis dan berkaldu.
Masak
Kental. Tidak berair di pinggir mangkuk, bahkan setelah sepuluh menit.
Hantar
Cakwe dan kedelai ditabur saat mangkuk sudah di depanmu.
Ingat
Kami datang pukul enam pagi, dua kali. Tidak ada yang menyuruh.

Kamu tidak perlu mengaduknya dulu supaya enak.

Ditulis Sekar Pramudita.

Piring 8: Asinan Betawi

Asinan Ncang Dullah, Rawamangun

8,5dari 10. Pendapat redaksi.

Rasa
Cuka, kacang, lalu cabai. Datangnya berurutan, tidak berebut.
Masak
Yang dimasak hanya bumbunya. Sawi asinnya diperam sendiri dan itu terasa.
Hantar
Kerupuk mi diletakkan paling akhir supaya belum lembek saat kamu mulai.
Ingat
Asamnya membuat piring sesudahnya terasa lebih enak.

Piring paling ringan di daftar ini, dan yang paling sering kami minta lagi.

Ditulis Mei Lanawati.

Piring 9: Es podeng

Es Podeng Bang Jali, Pasar Baru

8,4dari 10. Pendapat redaksi.

Rasa
Es puter kelapanya hampir tawar. Manisnya datang dari susu kental di atas.
Masak
Diputar tangan, jadi serat kelapanya masih ada dan butir esnya halus.
Hantar
Disusun cepat dan harus dimakan cepat. Roti tawarnya menyerap lelehan.
Ingat
Ketan hitam dan alpukat dalam satu sendok.

Makan ini paling akhir. Kami sudah mencoba urutan lain dan menyesal.

Ditulis Mei Lanawati.

Cara kami menilai

  • Kami datang dua kali dan tidak memberi tahu.

    Kunjungan kedua berjarak paling sedikit seminggu dan jatuh di jam yang berbeda. Kami duduk dan memesan seperti tamu lain.

  • Tiga orang harus sepakat.

    Sekar, Tigor, dan Mei menilai sendiri-sendiri, lalu membandingkan catatan. Satu penolakan cukup untuk menahan sebuah piring.

  • Piring yang gagal di kunjungan kedua, gugur.

    Tidak ada kunjungan ketiga untuk memperbaiki nasib. Dapur yang bagus sekali waktu belum tentu bagus saat kamu datang.

Empat ukuran, ditulis sebagai kalimat

Rasa
Apakah bumbunya terbaca dan seimbang pada sendok pertama.
Masak
Apakah bahannya berhenti dimasak di titik yang tepat.
Hantar
Bagaimana piring itu tiba: suhu, urutan, dan apa yang dibiarkan kamu putuskan.
Ingat
Apa yang masih kami bicarakan tiga hari kemudian.

9,2Angka dari 10 adalah rata-rata tiga pengulas, dibulatkan satu desimal. Itu pendapat redaksi dan kami menulisnya sebagai pendapat. Bias tiap pengulas tertulis di bagian pengulas.

Lontong cap go meh tampak atas di piring porselen segi delapan: lontong, opor ayam, sayur labu siam, sambal goreng ati, telur pindang, bubuk kedelai, dan kerupuk

Piring Kesepuluh

Lontong cap go meh, Kedai Encim Hwa, Kemayoran

Tiap bulan ada satu piring yang nyaris masuk. Kami menulisnya juga, dengan alasan kenapa tidak.

Kunjungan pertama, pertengahan September: opornya bening dan berlapis, sambal goreng atinya tajam, bubuk kedelainya baru disangrai. Sekar dan Mei menaruhnya di lima besar. Tigor menulis satu kata di catatannya: lontong.

Kunjungan kedua, sebelas hari kemudian: lontongnya dingin di tengah dan sayur labunya kehilangan garam. Opornya masih bagus. Menurut aturan kami, itu tidak cukup.

Mei masih berpendapat satu siang yang buruk tidak menghapus piring pertama. Tigor berpendapat tamu yang datang pada siang yang buruk itu tetap makan lontong dingin. Aturannya memihak Tigor. Kami kembali Februari, saat cap go meh.

Perdebatan di meja itu terekam utuh.

Sendok sayur mengangkat dua potong daging dari panci aluminium besar berisi kuah gelap, uap tipis naik di depan jendela dapur

Kuah yang bagus tidak pernah panas sekali

Tulisan Sekar Pramudita. Lima menit baca.

Kita jarang mempersoalkan satu kebiasaan di meja makan: kuah harus datang mendidih. Mangkuk yang mengepul kita anggap tanda dapurnya bekerja. Saya dulu ikut percaya. Lalu saya makan kuah di Jakarta selama sebulan dan berhenti percaya.

Di Tebet, rawon Bu Warsini sampai ke meja dalam keadaan hangat, di antara suam dan panas. Pada kunjungan pertama saya hampir mencatatnya sebagai kekurangan. Lalu saya menyendok, dan keluaknya langsung terasa: pahit dulu, gurih kemudian. Lidah saya tidak perlu menunggu.

Kuah yang terlalu panas menunda rasa. Tiga sendok pertama hanya memberi tahu bahwa kuahnya panas. Garam, asam, dan lemak baru terbaca setelah suhunya turun, dan saat itu banyak orang sudah menuang sambal dan kecap ke sesuatu yang belum mereka cicipi.

Panci di dapur soto Bang Ruslan di Kebayoran Lama tidak pernah bergolak. Saya berdiri di dekatnya dua puluh menit dan permukaannya cuma bergetar di tepi. Santan yang direbus keras pecah dan berminyak. Santan yang dijaga di bawah didih tetap utuh. Ia tahu itu, dan ia tidak menaikkan api supaya mangkuknya tampak meyakinkan di depan tamu.

Tigor menemukan hal yang sama dari arah lain. Di Senen, gulai tunjang sampai ke meja dengan kuah yang sudah mengental di tepi piring, dan ia mengira itu sisa pagi. Pelayannya menjelaskan: gulai diangkat dari api pukul sepuluh dan dibiarkan turun suhunya supaya tunjangnya menyerap bumbu. Tigor meminta piring kedua.

Saya tidak sedang membela kuah dingin. Bubur ayam di Glodok datang lebih panas daripada dua kuah tadi, dan memang harus begitu, karena bubur mengental begitu suhunya turun. Tiap kuah punya suhunya sendiri. Saya mempersoalkan panas yang dipakai sebagai pertunjukan.

Warung punya alasan praktis menyajikan kuah mendidih. Panci besar yang terus dipanaskan lebih mudah dijaga dari pagi sampai sore, dan tamu jarang protes kalau lidahnya terbakar. Mereka baru protes kalau kuahnya hangat. Jadi dapur memilih jalan yang tidak mengundang keluhan.

Dapur yang menyajikan kuah hangat mengambil risiko itu. Ia yakin kuahnya sanggup dinilai pada sendok pertama. Dari empat kuah di daftar Oktober, tiga datang di bawah mendidih. Saya kira itu ada sebabnya.

Tigor akan bilang saya terlalu sayang pada kuah, dan ia benar. Itu bias saya, dan tertulis di halaman ini. Tetapi coba sendiri: lain kali mangkukmu datang mengepul, tunggu dua menit sebelum menyentuh sambal. Cicipi dulu. Kalau kuahnya bagus, kamu akan tahu kenapa ia tidak perlu sepanas itu. Kalau tidak bagus, kamu juga akan tahu, dan itu lebih berguna lagi.

Catatan pendek dari bulan yang sama

Bak besi berisi arang batok yang baru menyala, kipas anyaman bambu, sepiring sate kambing mentah, dan semangkuk kecap dengan kuas serai di bangku kayu

Arang batok tidak bisa disuruh cepat

Tigor Hasibuan

Pak Darto menyalakan arang pukul empat dan baru membakar pukul lima. Satu jam itu yang memisahkan satenya dari sate yang dibakar di atas api. Bara yang sudah berabu memanaskan tanpa menjilat. Lemak menetes, berasap, dan asapnya naik lagi ke daging. Saya menunggu di bangku kayu. Tidak ada yang meminta maaf atas lamanya, dan memang tidak perlu.

Ulasan sate kambing, Jatinegara

Tiga stoples kaca di meja ubin putih berisi sawi asin, kol dan tauge dalam air cuka, dan bumbu kacang cabai, dengan gula aren, cabai merah, kacang goreng, dan kerupuk mi kuning

Cuka yang tahu diri

Mei Lanawati

Asinan gampang berubah jadi lomba asam. Di Rawamangun, Ncang Dullah mencampur cuka dengan air rebusan gula aren sampai asamnya berhenti di tengah lidah. Sawi asinnya ia peram sendiri sembilan hari, dan stoplesnya berjajar di dekat jendela dapur. Saya suka asam dan manis, jadi anggap nilai saya untuk piring ini setengah angka terlalu tinggi. Dua rekan saya sudah memangkasnya.

Ulasan asinan Betawi, Rawamangun

Kenapa sembilan

Redaksi

Orang memilih sepuluh karena bulat. Sembilan memaksa kami membuang satu piring yang sebenarnya kami suka, dan piring itu kami tulis juga, lengkap dengan alasan gugurnya. Bulan ini kami makan di 41 tempat. Tiga puluh satu berhenti di kunjungan pertama.

Baca Piring Kesepuluh

Kunjungan Kedua

Empat episode, 7 sampai 12 menit. Kami kembali ke tempat yang sama dan kali ini kamera ikut.

  1. Tangan juru masak menuang kuah rawon hitam dari sendok sayur ke mangkuk putih di meja warung

    111 menit

    Kuah, dua kali

    Rawon di Tebet, soto Betawi di Kebayoran Lama, bubur ayam di Glodok pukul enam pagi. Sekar membawa termometer saku dan Tigor menertawakannya.

    Tulisannya: Kuah yang bagus tidak pernah panas sekali

  2. Lengan mengipasi puluhan tusuk sate kambing di atas bara arang saat senja, asap melayang ke kanan

    29 menit

    Arang pukul lima

    Sate kambing di Jatinegara, nasi uduk di Palmerah, gulai tunjang di Senen. Tigor menghitung potongan lemak di tiap tusuk, dua kali.

    Tulisannya: Arang batok tidak bisa disuruh cepat

  3. Dua tangan mengulek bumbu kacang di cobek batu besar, dikelilingi kangkung, kacang panjang, tauge, lontong, dan tahu goreng

    37 menit

    Ulekan dan cuka

    Gado-gado di Cikini, asinan di Rawamangun, es podeng di Pasar Baru. Mei mengakui biasnya di menit kedua, sebelum ada yang bertanya.

    Tulisannya: Cuka yang tahu diri

  4. Seorang pengulas tampak dari belakang di meja marmer, di depannya sepiring lontong cap go meh setengah habis, segelas teh, dan buku catatan terbuka

    412 menit

    Yang gugur

    Lontong cap go meh di Kemayoran dan perdebatan di meja sesudahnya. Tigor tidak sepakat sampai menit terakhir.

    Tulisannya: Piring Kesepuluh

Tiga pasang tangan di meja marmer: satu menyendok rawon, satu mengangkat tusuk sate kambing, satu menyendok es podeng, dengan serbet linen dan buku catatan di antaranya
Meja kunjungan kedua, Jatinegara. Dari kiri: Sekar, Tigor, Mei.

Tiga orang, tiga bias

Kami tidak memasang foto wajah. Yang perlu kamu tahu dari seorang pengulas adalah ke mana lidahnya condong.

  • Sekar Pramudita

    Condong ke kuah.

    Memimpin daftar bulan ini. Kalau dua piring imbang, ia memilih yang berkuah. Kurangi sendiri setengah angka dari nilai kuahnya kalau kamu tidak sepaham.

  • Tigor Hasibuan

    Condong ke bakar dan lemak.

    Tidak pernah menolak tunjang dan lunak pada apa pun yang kena arang. Sayur jarang membuatnya menulis lebih dari dua baris.

  • Mei Lanawati

    Condong ke manis dan asam.

    Ia yang membela asinan dan es podeng sampai masuk daftar. Pahit butuh waktu lebih lama untuk meyakinkannya, jadi nilai rawon darinya paling rendah di antara bertiga.

Arsip: tiga kota sebelum Jakarta

  • BandungSeptember 2026Piring pertama: mi kocok, Kedai Ceu Entin, Cibadak.
  • MedanAgustus 2026Piring pertama: lontong Medan, Kedai Kak Rosmala, Kesawan.
  • SemarangJuli 2026Piring pertama: tahu gimbal, Warung Pak Slamet, Pleburan.

Kabari saat sembilan berikutnya keluar

Satu surel sebulan, pada hari daftar terbit. November: Surabaya. Mejanya belum ditata.

Hanya dipakai untuk kabar daftar baru dan ralat. Cara berhenti ada di Privasi.

Ninthplate Editions

Daftar Dokumen

Empat halaman, dari pembuka sampai penutup. Berlaku sejak 1 Oktober 2026.

Pembuka

Kebijakan Privasi

Data yang kami simpan

Alamat surel kalau kamu mendaftar buletin. Nama tampilan dan isi komentar kalau kamu berkomentar. Kami tidak meminta tanggal lahir, nomor telepon, atau alamat rumah.

Buletin

Satu surel tiap bulan pada hari daftar terbit, ditambah ralat kalau ada ulasan yang kami perbaiki. Tiap surel memuat tautan Berhenti yang bekerja dengan satu klik.

Komentar

Komentar tampil dengan nama tampilan yang kamu pilih. Alamat surelmu tidak ikut tampil dan tidak kami teruskan ke tempat makan yang diulas.

Kuki dan pengukuran

Satu kuki untuk mengingat pilihan tampilan, dan hitungan kunjungan tanpa identitas perangkat. Tidak ada pelacak pihak ketiga. Pemutar YouTube baru dimuat setelah kamu menekan putar.

Hakmu menurut UU PDP

Sesuai Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi, kamu berhak melihat, memperbaiki, menarik persetujuan, dan meminta penghapusan datamu. Kami menjawab paling lama 3 x 24 jam.

Penyimpanan dan penghapusan

Alamat surel dihapus dalam tujuh hari setelah kamu berhenti. Komentar bisa kamu hapus sendiri, dan salinan cadangannya hilang dalam 30 hari.

Menghubungi kami

Ninthplate Editions, Jakarta. Pertanyaan soal data pribadi: [email protected].

Hidangan utama

Ketentuan Pemakaian

Siapa kami

Ninthplate diterbitkan oleh Ninthplate Editions. Dengan membaca situs ini kamu menyetujui ketentuan di halaman ini.

Cara kami menilai

Tiap piring dikunjungi dua kali tanpa pemberitahuan dan harus disepakati tiga pengulas. Angka dari 10 adalah pendapat redaksi pada tanggal kunjungan. Dapur bisa berubah sesudahnya.

Koreksi

Kesalahan fakta kami perbaiki di tempat, dengan catatan tanggal dan apa yang diubah. Pendapat tidak kami ralat hanya karena ada yang tidak setuju.

Komentar pembaca

Tulis pengalaman makanmu sendiri. Kami menghapus serangan pribadi, tuduhan tanpa dasar terhadap tempat makan, dan komentar yang ditulis atas nama tempat makan tanpa menyebutkannya.

Tempat makan yang diulas

Tempat makan tidak bisa meminta diulas, meminta ulasan dicabut, atau melihat ulasan sebelum terbit. Mereka boleh menanggapi lewat komentar dengan nama usahanya.

Video dan tautan luar

Episode Kunjungan Kedua diputar lewat YouTube dan tunduk pada ketentuan layanan itu. Kami tidak mengatur isi situs lain yang kamu buka dari sini.

Perubahan dan hukum yang berlaku

Perubahan ketentuan diumumkan di halaman ini paling lambat 14 hari sebelum berlaku. Ketentuan ini tunduk pada hukum Republik Indonesia.

Pendamping

Perjanjian Pengguna dan Lisensi Konten

Yang kamu terima

Izin pribadi, tidak eksklusif, dan tidak bisa dialihkan untuk membaca, menonton, dan menyimpan isi Ninthplate bagi keperluanmu sendiri.

Mengutip tulisan

Kamu boleh mengutip sampai 100 kata dari satu tulisan asal menyebut Ninthplate, nama penulisnya, dan menautkan halamannya.

Foto dan video

Foto piring dan rekaman episode adalah milik Ninthplate Editions. Pemakaian ulang di luar tangkapan layar pendek untuk ulasan atau berita perlu izin tertulis.

Yang tidak boleh

Menyalin daftar utuh, melatih model mesin dengan isi situs, mencabut nama penulis, atau memasang nilai kami seolah-olah dukungan bagi suatu usaha.

Kiriman pembaca

Komentar dan usulan tetap milikmu. Kamu memberi kami izin menampilkannya di situs dan mengutipnya di buletin dengan nama tampilanmu.

Nama dan tanda

Nama Ninthplate, lambang piring bercincin, dan judul Kunjungan Kedua tidak boleh dipakai untuk menamai acara, daftar, atau barang lain.

Berakhirnya izin

Izin ini berakhir kalau ketentuannya dilanggar. Bagian soal hak cipta tetap berlaku sesudahnya.

Penutup

Bantuan

Mengusulkan tempat makan

Kirim nama tempat, kawasan, dan satu piring yang menurutmu layak ke [email protected]. Kami membaca semuanya dan tidak menjanjikan kunjungan.

Tempat makan saya ingin masuk daftar

Kami tidak memberi kabar sebelum atau sesudah berkunjung. Satu-satunya jalan masuk daftar adalah piringnya.

Menemukan kesalahan

Tulis ke [email protected] dengan judul ulasan dan apa yang keliru. Ralat tampil di bawah ulasan itu.

Berhenti menerima buletin

Tekan Berhenti di kaki surel mana pun. Tidak ada pertanyaan lanjutan.

Video tidak mau diputar

Pemutar butuh sambungan ke YouTube. Kalau jaringanmu memblokirnya, pakai tautan Buka di YouTube di jendela video.

Arsip kota lain

Bandung, Medan, dan Semarang tersimpan utuh di arsip. Tempat yang tutup atau pindah diberi catatan, tidak dihapus.

Menghubungi redaksi

[email protected]. Kami menjawab pada hari kerja, biasanya dalam dua hari.

Trailer Kunjungan Kedua

Kunjungan Kedua, NinthplateBuka di YouTube