Belum ada yang ditunjuk
Nomor di tiap piring adalah peringkatnya. Piring yang tidak cocok dengan saringan meredup, tetapi tetap di meja dan tetap bisa dibuka.
- 41
- tempat kami datangi bulan ini
- 10
- dapat kunjungan kedua
- 9
- bertahan sampai meja ini

Bulan ini kami makan di 41 tempat. Yang di bawah ini lolos dua kunjungan dan disepakati tiga orang.
Semua sudah di meja. Tunjuk satu piring untuk membaca ulasannya.
Nomor di tiap piring adalah peringkatnya. Piring yang tidak cocok dengan saringan meredup, tetapi tetap di meja dan tetap bisa dibuka.
Warung Rawon Bu Warsini, Tebet
9,2dari 10. Pendapat redaksi.
Rawon ini tidak berusaha disukai, dan karena itu kami kembali.
Ditulis Sekar Pramudita.
Soto Betawi Bang Ruslan, Kebayoran Lama
9,0dari 10. Pendapat redaksi.
Bang Ruslan memasak soto yang sama pada dua hari berbeda, dan itu lebih sulit daripada hebat satu kali.
Ditulis Sekar Pramudita.
Gado-gado Mpok Yati, Cikini
8,9dari 10. Pendapat redaksi.
Kami datang untuk bumbu kacangnya dan pulang membicarakan sayurnya.
Ditulis Mei Lanawati.
Nasi Uduk Ibu Marni, Palmerah
8,8dari 10. Pendapat redaksi.
Kalau nasinya sebenar ini, kamu tidak akan minta lauk tambahan.
Ditulis Tigor Hasibuan.
Sate Kambing Pak Darto, Jatinegara
8,8dari 10. Pendapat redaksi.
Pak Darto menunggu arangnya satu jam, dan sepuluh tusuk ini hasilnya.
Ditulis Tigor Hasibuan.
Rumah Makan Lubuk Sari, Senen
8,7dari 10. Pendapat redaksi.
Tigor berhenti mencatat di suapan kedua, dan kami menghitung itu sebagai nilai.
Ditulis Tigor Hasibuan.
Bubur Ayam Cik Lanny, Glodok
8,6dari 10. Pendapat redaksi.
Kamu tidak perlu mengaduknya dulu supaya enak.
Ditulis Sekar Pramudita.
Asinan Ncang Dullah, Rawamangun
8,5dari 10. Pendapat redaksi.
Piring paling ringan di daftar ini, dan yang paling sering kami minta lagi.
Ditulis Mei Lanawati.
Es Podeng Bang Jali, Pasar Baru
8,4dari 10. Pendapat redaksi.
Makan ini paling akhir. Kami sudah mencoba urutan lain dan menyesal.
Ditulis Mei Lanawati.
Kunjungan kedua berjarak paling sedikit seminggu dan jatuh di jam yang berbeda. Kami duduk dan memesan seperti tamu lain.
Sekar, Tigor, dan Mei menilai sendiri-sendiri, lalu membandingkan catatan. Satu penolakan cukup untuk menahan sebuah piring.
Tidak ada kunjungan ketiga untuk memperbaiki nasib. Dapur yang bagus sekali waktu belum tentu bagus saat kamu datang.
9,2Angka dari 10 adalah rata-rata tiga pengulas, dibulatkan satu desimal. Itu pendapat redaksi dan kami menulisnya sebagai pendapat. Bias tiap pengulas tertulis di bagian pengulas.
Lontong cap go meh, Kedai Encim Hwa, Kemayoran
Tiap bulan ada satu piring yang nyaris masuk. Kami menulisnya juga, dengan alasan kenapa tidak.
Kunjungan pertama, pertengahan September: opornya bening dan berlapis, sambal goreng atinya tajam, bubuk kedelainya baru disangrai. Sekar dan Mei menaruhnya di lima besar. Tigor menulis satu kata di catatannya: lontong.
Kunjungan kedua, sebelas hari kemudian: lontongnya dingin di tengah dan sayur labunya kehilangan garam. Opornya masih bagus. Menurut aturan kami, itu tidak cukup.
Mei masih berpendapat satu siang yang buruk tidak menghapus piring pertama. Tigor berpendapat tamu yang datang pada siang yang buruk itu tetap makan lontong dingin. Aturannya memihak Tigor. Kami kembali Februari, saat cap go meh.
Perdebatan di meja itu terekam utuh.
Kita jarang mempersoalkan satu kebiasaan di meja makan: kuah harus datang mendidih. Mangkuk yang mengepul kita anggap tanda dapurnya bekerja. Saya dulu ikut percaya. Lalu saya makan kuah di Jakarta selama sebulan dan berhenti percaya.
Di Tebet, rawon Bu Warsini sampai ke meja dalam keadaan hangat, di antara suam dan panas. Pada kunjungan pertama saya hampir mencatatnya sebagai kekurangan. Lalu saya menyendok, dan keluaknya langsung terasa: pahit dulu, gurih kemudian. Lidah saya tidak perlu menunggu.
Kuah yang terlalu panas menunda rasa. Tiga sendok pertama hanya memberi tahu bahwa kuahnya panas. Garam, asam, dan lemak baru terbaca setelah suhunya turun, dan saat itu banyak orang sudah menuang sambal dan kecap ke sesuatu yang belum mereka cicipi.
Panci di dapur soto Bang Ruslan di Kebayoran Lama tidak pernah bergolak. Saya berdiri di dekatnya dua puluh menit dan permukaannya cuma bergetar di tepi. Santan yang direbus keras pecah dan berminyak. Santan yang dijaga di bawah didih tetap utuh. Ia tahu itu, dan ia tidak menaikkan api supaya mangkuknya tampak meyakinkan di depan tamu.
Tigor menemukan hal yang sama dari arah lain. Di Senen, gulai tunjang sampai ke meja dengan kuah yang sudah mengental di tepi piring, dan ia mengira itu sisa pagi. Pelayannya menjelaskan: gulai diangkat dari api pukul sepuluh dan dibiarkan turun suhunya supaya tunjangnya menyerap bumbu. Tigor meminta piring kedua.
Saya tidak sedang membela kuah dingin. Bubur ayam di Glodok datang lebih panas daripada dua kuah tadi, dan memang harus begitu, karena bubur mengental begitu suhunya turun. Tiap kuah punya suhunya sendiri. Saya mempersoalkan panas yang dipakai sebagai pertunjukan.
Warung punya alasan praktis menyajikan kuah mendidih. Panci besar yang terus dipanaskan lebih mudah dijaga dari pagi sampai sore, dan tamu jarang protes kalau lidahnya terbakar. Mereka baru protes kalau kuahnya hangat. Jadi dapur memilih jalan yang tidak mengundang keluhan.
Dapur yang menyajikan kuah hangat mengambil risiko itu. Ia yakin kuahnya sanggup dinilai pada sendok pertama. Dari empat kuah di daftar Oktober, tiga datang di bawah mendidih. Saya kira itu ada sebabnya.
Tigor akan bilang saya terlalu sayang pada kuah, dan ia benar. Itu bias saya, dan tertulis di halaman ini. Tetapi coba sendiri: lain kali mangkukmu datang mengepul, tunggu dua menit sebelum menyentuh sambal. Cicipi dulu. Kalau kuahnya bagus, kamu akan tahu kenapa ia tidak perlu sepanas itu. Kalau tidak bagus, kamu juga akan tahu, dan itu lebih berguna lagi.
Tigor Hasibuan
Pak Darto menyalakan arang pukul empat dan baru membakar pukul lima. Satu jam itu yang memisahkan satenya dari sate yang dibakar di atas api. Bara yang sudah berabu memanaskan tanpa menjilat. Lemak menetes, berasap, dan asapnya naik lagi ke daging. Saya menunggu di bangku kayu. Tidak ada yang meminta maaf atas lamanya, dan memang tidak perlu.
Mei Lanawati
Asinan gampang berubah jadi lomba asam. Di Rawamangun, Ncang Dullah mencampur cuka dengan air rebusan gula aren sampai asamnya berhenti di tengah lidah. Sawi asinnya ia peram sendiri sembilan hari, dan stoplesnya berjajar di dekat jendela dapur. Saya suka asam dan manis, jadi anggap nilai saya untuk piring ini setengah angka terlalu tinggi. Dua rekan saya sudah memangkasnya.
Redaksi
Orang memilih sepuluh karena bulat. Sembilan memaksa kami membuang satu piring yang sebenarnya kami suka, dan piring itu kami tulis juga, lengkap dengan alasan gugurnya. Bulan ini kami makan di 41 tempat. Tiga puluh satu berhenti di kunjungan pertama.
Empat episode, 7 sampai 12 menit. Kami kembali ke tempat yang sama dan kali ini kamera ikut.
Rawon di Tebet, soto Betawi di Kebayoran Lama, bubur ayam di Glodok pukul enam pagi. Sekar membawa termometer saku dan Tigor menertawakannya.
Tulisannya: Kuah yang bagus tidak pernah panas sekali
Sate kambing di Jatinegara, nasi uduk di Palmerah, gulai tunjang di Senen. Tigor menghitung potongan lemak di tiap tusuk, dua kali.
Tulisannya: Arang batok tidak bisa disuruh cepat
Gado-gado di Cikini, asinan di Rawamangun, es podeng di Pasar Baru. Mei mengakui biasnya di menit kedua, sebelum ada yang bertanya.
Tulisannya: Cuka yang tahu diri
Lontong cap go meh di Kemayoran dan perdebatan di meja sesudahnya. Tigor tidak sepakat sampai menit terakhir.
Tulisannya: Piring Kesepuluh
Kami tidak memasang foto wajah. Yang perlu kamu tahu dari seorang pengulas adalah ke mana lidahnya condong.
Condong ke kuah.
Memimpin daftar bulan ini. Kalau dua piring imbang, ia memilih yang berkuah. Kurangi sendiri setengah angka dari nilai kuahnya kalau kamu tidak sepaham.
Condong ke bakar dan lemak.
Tidak pernah menolak tunjang dan lunak pada apa pun yang kena arang. Sayur jarang membuatnya menulis lebih dari dua baris.
Condong ke manis dan asam.
Ia yang membela asinan dan es podeng sampai masuk daftar. Pahit butuh waktu lebih lama untuk meyakinkannya, jadi nilai rawon darinya paling rendah di antara bertiga.
Satu surel sebulan, pada hari daftar terbit. November: Surabaya. Mejanya belum ditata.
Tercatat. Kamu kami kabari saat sembilan piring Surabaya keluar.
Ninthplate Editions
Empat halaman, dari pembuka sampai penutup. Berlaku sejak 1 Oktober 2026.
Pembuka
Alamat surel kalau kamu mendaftar buletin. Nama tampilan dan isi komentar kalau kamu berkomentar. Kami tidak meminta tanggal lahir, nomor telepon, atau alamat rumah.
Satu surel tiap bulan pada hari daftar terbit, ditambah ralat kalau ada ulasan yang kami perbaiki. Tiap surel memuat tautan Berhenti yang bekerja dengan satu klik.
Komentar tampil dengan nama tampilan yang kamu pilih. Alamat surelmu tidak ikut tampil dan tidak kami teruskan ke tempat makan yang diulas.
Satu kuki untuk mengingat pilihan tampilan, dan hitungan kunjungan tanpa identitas perangkat. Tidak ada pelacak pihak ketiga. Pemutar YouTube baru dimuat setelah kamu menekan putar.
Sesuai Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi, kamu berhak melihat, memperbaiki, menarik persetujuan, dan meminta penghapusan datamu. Kami menjawab paling lama 3 x 24 jam.
Alamat surel dihapus dalam tujuh hari setelah kamu berhenti. Komentar bisa kamu hapus sendiri, dan salinan cadangannya hilang dalam 30 hari.
Ninthplate Editions, Jakarta. Pertanyaan soal data pribadi: [email protected].
Hidangan utama
Ninthplate diterbitkan oleh Ninthplate Editions. Dengan membaca situs ini kamu menyetujui ketentuan di halaman ini.
Tiap piring dikunjungi dua kali tanpa pemberitahuan dan harus disepakati tiga pengulas. Angka dari 10 adalah pendapat redaksi pada tanggal kunjungan. Dapur bisa berubah sesudahnya.
Kesalahan fakta kami perbaiki di tempat, dengan catatan tanggal dan apa yang diubah. Pendapat tidak kami ralat hanya karena ada yang tidak setuju.
Tulis pengalaman makanmu sendiri. Kami menghapus serangan pribadi, tuduhan tanpa dasar terhadap tempat makan, dan komentar yang ditulis atas nama tempat makan tanpa menyebutkannya.
Tempat makan tidak bisa meminta diulas, meminta ulasan dicabut, atau melihat ulasan sebelum terbit. Mereka boleh menanggapi lewat komentar dengan nama usahanya.
Episode Kunjungan Kedua diputar lewat YouTube dan tunduk pada ketentuan layanan itu. Kami tidak mengatur isi situs lain yang kamu buka dari sini.
Perubahan ketentuan diumumkan di halaman ini paling lambat 14 hari sebelum berlaku. Ketentuan ini tunduk pada hukum Republik Indonesia.
Pendamping
Izin pribadi, tidak eksklusif, dan tidak bisa dialihkan untuk membaca, menonton, dan menyimpan isi Ninthplate bagi keperluanmu sendiri.
Kamu boleh mengutip sampai 100 kata dari satu tulisan asal menyebut Ninthplate, nama penulisnya, dan menautkan halamannya.
Foto piring dan rekaman episode adalah milik Ninthplate Editions. Pemakaian ulang di luar tangkapan layar pendek untuk ulasan atau berita perlu izin tertulis.
Menyalin daftar utuh, melatih model mesin dengan isi situs, mencabut nama penulis, atau memasang nilai kami seolah-olah dukungan bagi suatu usaha.
Komentar dan usulan tetap milikmu. Kamu memberi kami izin menampilkannya di situs dan mengutipnya di buletin dengan nama tampilanmu.
Nama Ninthplate, lambang piring bercincin, dan judul Kunjungan Kedua tidak boleh dipakai untuk menamai acara, daftar, atau barang lain.
Izin ini berakhir kalau ketentuannya dilanggar. Bagian soal hak cipta tetap berlaku sesudahnya.
Penutup
Kirim nama tempat, kawasan, dan satu piring yang menurutmu layak ke [email protected]. Kami membaca semuanya dan tidak menjanjikan kunjungan.
Kami tidak memberi kabar sebelum atau sesudah berkunjung. Satu-satunya jalan masuk daftar adalah piringnya.
Tulis ke [email protected] dengan judul ulasan dan apa yang keliru. Ralat tampil di bawah ulasan itu.
Tekan Berhenti di kaki surel mana pun. Tidak ada pertanyaan lanjutan.
Pemutar butuh sambungan ke YouTube. Kalau jaringanmu memblokirnya, pakai tautan Buka di YouTube di jendela video.
Bandung, Medan, dan Semarang tersimpan utuh di arsip. Tempat yang tutup atau pindah diberi catatan, tidak dihapus.
[email protected]. Kami menjawab pada hari kerja, biasanya dalam dua hari.